Postingan

Menampilkan postingan dari 2016

Seringkali

Seringkali ku merasa rendah Tak rupawan tak menawan hanya suka berangan Dia yang manis, dia yang segalanya dan aku yang terbuang Aku merasa jatuh, dan tak bisa disandingkan si dia. Si cantik bermata sipit. Aku mencinta dia yang pernah mencinta si cantik Aku suka tak percaya saat dia bilang dia cinta Suka menampar diri agar lekas bangun dari mimpi Mana bisa dia mencinta aku yang tak lebih menarik dari si cantik bermata sipit? Coba bilang, angin mana yang berhembus hingga ia pilih aku? Atau jangan-jangan ada gempa hingga dia tersungkur dan amnesia Hingga lupa bahwa sejatinya dia mencinta si cantik dan aku hanya ingatan yang salah ruangan Tolong jelaskann kepadanya agar aku tak banyak harap dan dia kembali bersama putri cantik bermata sipit. Karena aku sudah lelah dibuang demi si yang lebih indah Aku muak ditinggal dengan alasan ini itu hanya agar lepas dariku yang biasa Tak menarik, tak cantik, tak lebih dari buruk rupanya si itik Tolong jelaskan pada...
Mencintaimu begitu tak terduga. Pertemuan awal yang biasa, jarang bicara walau sering tatap muka, tapi kini ku jatuh cinta. Awal rasa tak suka kini malah tergila-gila. Rasanya masih tak sangka, begitu lucunya takdir bekerja. Oh, aku susah berkata-kata. Kamu pasti mengerti karena kamu juga punya hati. Betapa ingin aku memiliki. Kuat rasaku untuk mencintai. Dan berharap selalu kamu disisi. Menggenggam erat jemari serta janji yang tak diingkari. Karena aku tak mungkin pergi, karena aku begitu menyukai disini. Matamu teduh memaku. Hela nafasmu begitu merdu. Senyumku tampak malu-malu. Aku bisu diam membeku. Tiba-tiba aku merasa rindu. Dibawah sejuknya perdu dan senja menyaru. Kicau burung merayu rayu. Bahkan alam bersatu padu, agar kamu tetap bersamaku. Jakarta, 01 November 2016 Dari wanita penyuka indomie untuk kamu yang pasti mengerti.

JEMPUTLAH AKU KENIRWANAMU

Dewi Bulan histeris saat purnama Kekasih hatinya mati tanpa tanda dan sapa Ombak bergelung hebat mengikis batu karang Bergejolak tanpa henti seolah mengabarkan duka Dewi Bulan merana meraung sendirian Amarah, luka, kecewa, dan kehilangan menikam perasaan Jutaan bintang siap berlomba untuk menggantikan Namun satupun tak memenangkan Karena kekasihnya adalah muara tiada tara Tak peduli ada ataupun tiada Dewi Bulan tetap mendamba Walau kebahagiaan tak lagi memihaknya Dewi Bulan tak lain adalah aku Seorang gadis nyaris gila ditengah pilu Napasnya menderu namun tatapannya sayu Yang terus berkata "Jemputlah aku kenirwanamu"